Biji kelor mengandung minyak sekitar 30%-40% dengan konsentrasi asam oleat yang tinggi. Minyak dari biji Kelor lebih baik dari minyak bunga matahari.  Biodiesel yang terbuat dari biji Kelor memiliki stabilitas yang lebih baik daripada oksidatif  biodiesel yang berasal dari sumber bahan makanan lainnya (Rashid et al., 2008).

Minyak biji Kelor mengandung asam oleat yang tinggi, lebih dari 70%, dengan asam lemak jenuh yang terdiri dari sebagian besar profil asam lemak yang tersisa. Metil ester (biodiesel) yang diperoleh dari minyak ini menunjukkan angka oktan tinggi sekitar 67, salah satu yang tertinggi ditemukan untuk bahan bakar biodiesel.  Kelor dapat menghasilkan 1.000 sampai 2.000 liter bio-diesel per tahun ha. Produksi dimulai dalam waktu satu tahun dan bungkil biji sisa perasan minyak dan daunnya merupakan pakan ternak terbaik (Brockman, 2008).

Minyak biji Kelor yang diproses sebagai biodiesel, memiliki bilangan iod lebih baik dari solar biasa yang menunjukkan stabilitas bahan bakar. Minyak ini memiliki angka oktan yang menunjukkan aktivitas pengapian yang baik. Biodiesel dari kelor memiliki recovery dan kualitas minyak yang lebih tinggi dibandingkan tanaman lain yang memungkinkan untuk diproduksi dengan biaya yang lebih rendah dengan hasil sampingan gliserin kualitas tinggi.

Minyak biji Kelor dinilai menjadi sumber biodiesel yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan dibandingkan dengan minyak jarak pagar. Pasalnya, Kelor dapat memberikan keuntungan ganda yaitu sebagai sumber pangan bernutrisi tinggi dan bahan bakar terbarukan yang berkualitas baik.

Be Sociable, Share!