Sehat atau Bugar ?

Sebelum menjelaskan pertanyaan yang menjadi sub judul diatas, akan lebih baik bila kita memahami dulu arti kata BUGAR yang menjadi tujuan kita mengkonsumsi Kelor. Kamus Besar Bahasa Indonesia, menjelaskan kata BUGAR sebagai berikut :

  • sehat dan segar (tt badan);
  • mem·bu·gar·kan (v) menjadikan sehat dan segar;
  • ke·bu·gar·an (n) hal sehat dan segar (tt badan);
  • kesegaran: membiasakan makan sayuran mentah akan menambah – jasmani;
  • pem·bu·gar·an (n) proses, cara, perbuatan membugarkan: – jasmani dapat dilakukan dengan olahraga teratur.

Jadi, kata bugar mengandung arti lebih dari sekedar sehat, tetapi juga segar.

Sedangkan kata SEGAR disebutkan :

  • berasa nyaman dan ringan (tt perasaan badan);
  • merasa nyaman (tt udara);
  • nyaman dan sehat (tt kesehatan badan);
  • baik tumbuhnya (tt tumbuhan dsb, dipakai juga dl arti kiasan): tanaman kebunnya selalu — krn ia rajin menyirami;
  • masih baru; tidak layu (tt sayuran dsb, dipakai juga dl arti kiasan): warung itu menjual sayur-sayuran yg masih –;
  • — bugar 1 sehat benar-benar; 2 masih baru benar; 3 masih sehat dan kuat;
  • — pugar segar bugar;
  • me·nye·gar·kan (v) menjadikan segar (nyaman, sehat, kuat, dsb): minuman sari buah – badan; rekreasi – pikiran;
  • mem·per·se·gar (v) membuat lebih segar; menyegarkan;
  • pe·nye·gar (n) sesuatu yg menyegarkan;
  • pe·nye·gar·an (n) proses, cara, perbuatan menyegarkan;
  • ke·se·gar·an (n) keadaan (hal, sifat, dsb) segar; kenyamanan; kesehatan

Maka, tujuan mengkonsumsi Kelor adalah membuat tubuh kita bugar dan menjaga kebugaran itu sepanjang masa. Bagaimana Kelor dapat membuat tubuh kita bugar ?

Untuk memahami bagaimana Kelor dapat membuat tubuh kita bugar, maka harus dilihat dari manfaat serta khasiat dari masing-masing nutrisi yang terkandung dalam Kelor. Berikut penjelasan lebih lengkap tentang kandungan, manfaat dan khasiat beberapa nutrisi penting yang terkandung dalam Kelor.

Kelor Mengandung 46 Antioksidan

Kelor mangandung 46 senyawa antioksidan kuat atau senyawa- senyawa dengan karakteristik antioksidan. Senyawa antioksidan ini dapat menetralisir radikal bebas yang merusak sel-sel dalam tubuh.

a.   Bahaya radikal bebas

Darah kita setiap saat mengalirkan oksigen ke sel-sel tubuh. Oksigen membantu sel mengubah nutrisi menjadi energi. Dalam kondisi normal, molekul-molekul di dalam sel memiliki pasangan elektron yang lengkap sehingga stabil.

Ketika melakukan kontak dengan oksigen, molekul itu teroksidasi sehingga kehilangan elektron. Molekul tidak stabil tersebut lalu berubah menjadi apa yang disebut radikal bebas. Jadi, radikal bebas adalah produk alamiah hasil metabolisme sel. Radikal bebas sama alamiahnya dengan kita menghirup udara.

Biasanya, tubuh memiliki sistem pertahanan alami untuk menetralisir radikal bebas agar tidak berkembang menjadi berbahaya. Namun, pengaruh lingkungan dan kebiasaan buruk seperti radiasi ultraviolet, polusi, kebiasaan mengkonsumsi “junk food” dan merokok, dapat membuat sistem pertahanan tubuh kewalahan menghadapi radikal bebas yang berjumlah besar.

Pada saat tubuh kita dipenuhi radikal bebas yang berlebihan, maka molekul yang tidak stabil yang berada didalam tubuh kita itu berubah bentuk menjadi molekul pemangsa. Mereka mulai bergerak liar dan menyerang bagian tubuh yang sehat maupun yang tidak sehat sehingga terjadi penyakit.

Berbagai penyakit telah diteliti dan diduga kuat berkaitan dengan aktivitas radikal bebas ini. Penyakit-penyakit tersebut mencakup lebih dari 50 kelainan seperti Stroke, Asma, Pankreatitis, berbagai penyakit radang usus, penyumbatan kronis pembuluh darah di jantung, penyakit parkinson, Sel Sickle Leukemia, Artritis rematoid, pendarahan otak dan tekanan darah tinggi, bahkan AIDS.

Sebagai molekul tidak stabil, radikal bebas selalu berusaha “menyerobot” elektron molekul lain di dalam tubuh untuk membuatnya stabil kembali. Hal ini dapat menghancurkan bangunan dan struktur sel-sel tubuh serta mengubah ukuran dan bentuk mereka. Bayangkanlah proses perusakan sel ini seperti perkaratan besi oleh oksigen yang menghancurkan bentuknya.

Kerusakan sel-sel tersebut pada akhirnya menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan. Berbagai penelitian menunjukan bahwa radikal bebas yang berlebihan dapat memicu dan memperparah penyakit jantung, penyakit infeksi, tumor dan kanker, penyakit mata (seperti katarak  dan glukoma), penyakit kulit (seperti alergi dan dermatitis), dan lainnya serta mempercepat proses penuaan.

b.   Antioksidan menetralisir radikal bebas

Cara Kerja Antioksidan

Antioksidan dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang dapat menghambat atau memperlambat proses oksidasi. Oksidasi adalah jenis reaksi kimia yang melibatkan pengikatan oksigen, pelepasan hydrogen, atau pelepasan elektron.

Proses oksidasi adalah peristiwa alami yang terjadi di alam dan dapat terjadi dimana-mana tak terkecuali di dalam tubuh kita.

Antioksidan ini secara nyata mampu memperlambat atau menghambat oksidasi  zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah.  Antioksidan juga sesuai didefinisikan sebagai senyawa-senyawa  yang melindungi  sel  dari efek berbahaya  radikal bebas  oksigen reaktif jika berkaitan dengan penyakit, radikal bebas ini dapat berasal dari  metabolisme  tubuh maupun faktor eksternal lainnya.

Antioksidan merupakan nutrisi alami yang ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran tertentu, dan telah terbukti dapat melindungi sel-sel manusia dari kerusakan oksidatif dan memberikan keuntungan lainnya, antara lain :

•    Menguatkan kekebalan tubuh agar tahan terhadap flu, virus, dan infeksi.

•    Mengurangi kejadian semua jenis kanker.

•    Mencegah terjadinya glukoma dan degenerasi makular.

•    Mengurangi risiko terhadap oksidasi kolestrol dan penyakit jantung.

•    Anti-penuaan dari sel dan keseluruhan tubuh.

Mengkonsumsi lebih banyak antioksidan membantu tubuh untuk menetralisir radikal bebas berbahaya. Antioksidan berperan menetralisir radikal bebas dengan “menyumbangkan” elektron sehingga membuatnya stabil. Diperkirakan ada lebih dari 4.000 senyawa dalam makanan yang berfungsi sebagai antioksidan. Yang paling banyak dipelajari adalah beta karoten (pro vitamin A), vitamin C, vitamin E, asam fenolik, selenium, klorofil, karotenoid, flavonoid, glutasion, koenzim Q10, melatonin dan likopen. Perlu dicatat bahwa vitamin A sendiri bukan antioksidan.

c.    Kekurangan Antioksidan

Diet rendah lemak dapat mengganggu penyerapan beta karoten, vitamin E, dan nutrisi lainnya yang larut dalam lemak. Buah-buahan dan sayuran adalah sumber penting dari vitamin C dan karotenoid. Biji-bijian dan minyak nabati berkualitas tinggi adalah sumber utama vitamin E.

Banyak zat nutrisi yang berasal dari tanaman disebut sebagai “fitonutrien”, atau “phytochemical”. Ini juga memiliki sifat antioksidan. Senyawa Phenolic seperti flavonoid merupakan bahan kimia tersebut yang ditemukan pada beberapa buah-buahan, sayuran, ekstrak teh hijau, daun Kelor, dan banyak lagi lainnya.

Terlepas dari diet, tubuh juga memiliki beberapa mekanisme antioksidan yang dapat melindungi diri dari kerusakan sel yang disebabkan oleh radikal bebas. Enzim antioksidan-glutathione peroksidase, katalase dan superoksida dismutase (SOD) adalah enzim yang memiliki aktivitas kerja menangkal radikal bebas. Namun, untuk dapat bekerja sempurna mereka membutuhkan mikronutrien kofaktor seperti selenium, besi, tembaga, seng, dan mangan.  Dan Kelor mengandung semua mikronutrien kofaktor yang dibutuhkan tersebut.

Kelor membentengi tubuh kita dengan 46 senyawa antioksidan yang menangkal dan menetralisir radikal bebas, sebelum merusak sel-sel organ tubuh penting seperti jantung, hati, ginjal, paru-paru dan bahkan kulit yang membungkus tubuh, sehingga tubuh kita selalu terjaga untuk tetap bugar sepanjang waktu.

d.    Kandungan Antioksidan dalam Kelor

Vitamin A, Vitamin C, Vitamin E, Vitamin K, Vitamin B (Kolin), Vitamin B1 (Thiamin), Vitamin B2 (Riboflavin), Vitamin B3 (Niacin), Vitamin B6, Alanin, Alpha-carotene, Arginine, Beta-carotene , Beta-sitosterol, Caffeoylquinic Asam, Campesterol, Karotenoid, Klorofil, Chromium, Delta-5-Avenasterol, Delta-7-Avenasterol, Glutathione, Histidine, Asam Indole Acetic, Indoleacetonitrile, Kaempferal, Leusin, Lutein, Metionin, miristat-Asam, palmitat-Asam, Prolamine, Proline, Quercetin, Rutin, Selenium, Treonin, Triptofan, Xanthins, Xanthophyll, Zeatin, zeaxanthin, Zinc.

selanjutnya :

Anti Imflamasi

 Asam Amino

Vitamin

Mineral

Be Sociable, Share!